Jakarta, 19 September 2026 – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengingatkan para finalis Abang dan None Jakarta 2026 bahwa predikat yang mereka raih bukan sekadar gelar maupun selempang. Menurutnya, setiap Abang dan None membawa nama Jakarta sehingga memiliki tanggung jawab menjaga citra kota serta nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakatnya. Pesan tersebut disampaikan Rano dalam malam Final Abang dan None Jakarta 2026 di Jakarta, Jumat, 18 September 2026. Ia menilai para finalis telah mendapatkan berbagai pengetahuan dan pengalaman selama mengikuti rangkaian pembekalan. Materi yang diberikan mencakup Jakarta, pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif serta berbagai aspek yang berkaitan dengan peran Abang dan None. Bekal tersebut selanjutnya diharapkan dapat digunakan untuk memperkenalkan Jakarta kepada masyarakat yang lebih luas.
Rano mengatakan Abang dan None merupakan representasi Jakarta sekaligus jembatan yang menghubungkan kota tersebut dengan generasi muda dan masyarakat dunia. Karena itu, peran mereka tidak berhenti setelah kompetisi selesai dan pemenang diumumkan. Para finalis diharapkan mampu menceritakan Jakarta melalui berbagai kekayaan yang dimilikinya, mulai dari budaya hingga kehidupan masyarakat. Kreativitas kuliner, komunitas serta kehangatan masyarakat Jakarta juga dapat menjadi bagian dari cerita yang disampaikan kepada publik. Menurut Rano, kemampuan menyampaikan cerita tentang Jakarta menjadi semakin penting ketika kota tersebut terus bergerak menuju posisi sebagai kota global. Generasi muda dinilai memiliki peran strategis untuk menghadirkan wajah Jakarta yang modern tanpa melepaskan identitas dan akar budayanya.
Cara memperkenalkan Jakarta juga harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan perubahan pola komunikasi masyarakat. Rano meminta Abang dan None memanfaatkan berbagai ruang yang tersedia, baik panggung, forum pertemuan maupun ruang digital. Media sosial dan platform digital memberikan kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk memperkenalkan budaya, pariwisata serta kreativitas Jakarta kepada masyarakat di dalam maupun luar negeri. Namun, pemanfaatan ruang digital harus dilakukan secara kreatif, bijak dan bertanggung jawab. Pesan yang disampaikan tidak hanya perlu menarik perhatian, tetapi juga harus mencerminkan nilai serta karakter Jakarta secara tepat. Dengan kemampuan komunikasi yang baik, Abang dan None diharapkan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang semakin beragam.
Pesan tersebut sejalan dengan arahan yang sebelumnya disampaikan Rano ketika membuka rangkaian Pemilihan Abang None Jakarta 2026 pada Agustus lalu. Saat itu, ia meminta seluruh finalis memahami sejarah, perkembangan serta arah pembangunan Jakarta yang sedang bertransformasi menjadi kota global. Pengetahuan mengenai kota dinilai menjadi bekal penting karena Abang dan None nantinya ikut memperkenalkan Jakarta kepada masyarakat internasional. Pemilihan Abang None tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-54 dan diikuti 36 finalis dari lima kota administrasi serta Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memproyeksikan para finalis sebagai generasi muda yang mampu menjadi duta budaya sekaligus wajah Jakarta. Mereka juga dipersiapkan menyambut perjalanan Jakarta menuju usia lima abad pada 2027.
Rano menilai perjalanan panjang Jakarta telah membentuk kota melalui sejarah, keberagaman budaya serta karakter masyarakat yang kreatif dan dinamis. Transformasi menuju kota global menurutnya tidak boleh membuat Jakarta kehilangan akar budaya maupun jati dirinya. Modernisasi perlu berjalan beriringan dengan upaya merawat warisan budaya yang telah berkembang selama berabad-abad. Dalam konteks tersebut, Abang dan None memiliki posisi penting karena berhadapan langsung dengan generasi muda sekaligus menjadi bagian dari promosi kota. Mereka diharapkan dapat mengemas kekayaan budaya dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman. Pendekatan tersebut memungkinkan budaya Jakarta terus hidup dan dikenal tanpa kehilangan nilai yang menjadi fondasinya.
Pemilihan Abang None sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kegiatan kebudayaan di Jakarta. Ajang tersebut pertama kali diselenggarakan pada 1968 dengan nama Pemilihan Putri Jakarta sebelum kemudian berubah menjadi Abang None Jakarta sejak 1971. Dalam perkembangannya, kegiatan itu tidak hanya diarahkan untuk melestarikan kebudayaan Betawi, tetapi juga menjadi ruang pengembangan potensi generasi muda. Peserta didorong mengembangkan bakat, kreativitas, kecerdasan serta kemampuan komunikasi untuk membantu mempromosikan Jakarta. Sejumlah alumni kemudian membangun karier di berbagai bidang setelah mengikuti ajang tersebut. Perjalanan panjang itu membuat Abang None menjadi salah satu bagian dari upaya Jakarta mempertahankan tradisi sekaligus menyiapkan generasi muda sebagai duta kota.
Pada malam final tahun ini, sebanyak 36 finalis yang berasal dari enam wilayah administrasi bersaing setelah melewati berbagai tahapan seleksi dan pembekalan. Mereka kemudian disaring menjadi delapan besar sebelum akhirnya mengerucut menjadi tiga besar. Herve Pierre Sidarta dari Jakarta Selatan akhirnya terpilih sebagai Abang Jakarta 2026, sedangkan Citra dari Jakarta Timur menjadi None Jakarta 2026. Muhammad Hamiz Ghani dari Jakarta Barat dan Nadya Ramadhita dari Kepulauan Seribu meraih posisi Wakil I. Posisi Wakil II ditempati Muhammad Zaeralsyah dari Kepulauan Seribu dan Thana Mutia dari Jakarta Timur. Sementara gelar favorit diberikan kepada Muhammad Figo Zulvan dari Jakarta Barat dan Azzahra Nureyna dari Jakarta Utara.
Pemprov DKI sebelumnya menegaskan proses seleksi tidak hanya mempertimbangkan penampilan dan kemampuan komunikasi peserta. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Andhika Permata mengatakan finalis juga dinilai berdasarkan pemahaman mengenai pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif. Dewan juri lintas disiplin menggunakan sejumlah indikator, termasuk pengetahuan tentang Jakarta, kepemimpinan, pola pikir global dan kreatif serta kemampuan berkolaborasi. Kemampuan menghadirkan solusi juga menjadi bagian dari aspek yang diperhatikan selama proses seleksi. Kriteria tersebut dirancang agar Abang dan None tidak hanya menjadi figur seremonial, tetapi mampu memberikan kontribusi dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan dan promosi Jakarta. Pemerintah berharap mereka dapat menjadi representasi generasi baru yang membawa semangat Jakarta sebagai kota global.
Rano berharap Abang dan None Jakarta 2026 mampu membawa energi baru dalam perjalanan menuju lima abad Jakarta melalui karya, kreativitas dan kontribusi nyata. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, menurutnya, terus membuka ruang bagi anak muda untuk berkarya dan menghadirkan inovasi bagi kota. Abang dan None diharapkan menggunakan kesempatan tersebut untuk memperluas pengenalan terhadap budaya Jakarta hingga tingkat internasional. Tanggung jawab itu membuat predikat yang mereka sandang memiliki makna lebih besar daripada kemenangan dalam sebuah kompetisi. Nama Jakarta, citra kota dan keberlanjutan nilai budaya menjadi bagian yang melekat pada peran mereka setelah malam final berakhir. Pesan tersebut sekaligus menegaskan harapan agar generasi muda ikut menjaga identitas Jakarta di tengah transformasinya menjadi kota global yang semakin modern.