Jakarta, 10 September 2026 – Masyarakat yang matanya terkena abu vulkanik dianjurkan tidak mengucek atau menggosok mata dan segera membilasnya menggunakan air bersih mengalir. Langkah tersebut penting karena abu vulkanik mempunyai karakteristik berbeda dibandingkan debu biasa yang ditemukan sehari-hari. Partikel abu dapat mengandung material mineral dan silika yang berukuran sangat kecil serta bersifat abrasif. Ketika masuk ke mata, partikel tersebut dapat menimbulkan rasa mengganjal, perih, kemerahan, berair, hingga sensitivitas terhadap cahaya. Menggosok mata justru berpotensi membuat partikel bergesekan dengan permukaan mata dan memperburuk iritasi. Karena itu, pembilasan menjadi pertolongan awal yang dianjurkan untuk membantu mengeluarkan material asing dari mata.
Risiko paparan abu vulkanik kembali menjadi perhatian setelah erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu menyebar ke sejumlah wilayah. Sebaran material tersebut tidak hanya berdampak terhadap aktivitas penerbangan dan kegiatan masyarakat, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan bagi warga yang terpapar. Abu dapat masuk ke saluran pernapasan, mengenai kulit, maupun masuk ke mata ketika terbawa angin. Partikel yang sangat halus juga dapat kembali beterbangan ketika permukaan yang tertutup abu dibersihkan tanpa prosedur yang tepat. Kondisi tersebut membuat penggunaan perlindungan tetap diperlukan meskipun aktivitas erupsi mulai mereda. Masyarakat terutama perlu berhati-hati ketika membersihkan rumah, kendaraan, dan lingkungan yang masih tertutup material vulkanik.
Dokter spesialis mata Rini Sulastiwaty Situmorang menjelaskan langkah pertama ketika abu masuk ke mata adalah membersihkannya menggunakan air mengalir. Aliran air diharapkan dapat membawa keluar benda asing yang masih berada pada permukaan mata. Setelah proses pembilasan, air mata buatan yang dijual bebas dapat digunakan untuk membantu memberikan pelumasan apabila diperlukan. Namun, penggunaan obat mata lain tidak sebaiknya dilakukan sembarangan tanpa mengetahui kondisi mata. Keluhan seperti rasa mengganjal dapat berasal dari benda asing yang masih tertinggal maupun iritasi atau luka kecil pada permukaan mata. Perbedaan kondisi tersebut dapat menentukan penanganan lanjutan yang dibutuhkan.
Mengucek mata menjadi tindakan yang perlu dihindari ketika terdapat kemungkinan partikel abu masih berada di dalamnya. Gerakan menggosok dapat membuat material abrasif bergerak di sepanjang permukaan mata dan meningkatkan risiko terjadinya goresan. Pada paparan tertentu, keluhan dapat berupa mata merah, perih, berair, terasa seperti terdapat pasir, atau menjadi lebih sensitif terhadap cahaya. Abu vulkanik segar juga dapat membawa lapisan kimia tertentu yang menambah potensi iritasi. Kondisi tersebut menjadi alasan air bersih digunakan untuk membantu mengurangi material yang menempel secepat mungkin. Setelah pembilasan, mata sebaiknya tidak terus disentuh apabila keluhan masih terasa. Pemeriksaan diperlukan apabila terdapat kemungkinan partikel tidak berhasil keluar melalui pembilasan.
Pencegahan menjadi langkah yang lebih penting bagi masyarakat yang harus beraktivitas di wilayah dengan abu masih beterbangan. Penggunaan kacamata pelindung yang menutup area sekitar mata lebih disarankan karena dapat mengurangi kemungkinan partikel masuk dari bagian samping, atas, maupun bawah. Kacamata biasa tetap dapat memberikan perlindungan tertentu apabila kacamata pelindung tertutup tidak tersedia. Masyarakat juga dianjurkan menghindari penggunaan lensa kontak ketika kondisi udara masih banyak mengandung abu. Partikel yang masuk dan terperangkap di antara lensa kontak dengan permukaan mata dapat meningkatkan ketidaknyamanan dan iritasi. Perlindungan mata sebaiknya digunakan bersamaan dengan masker yang mampu mengurangi paparan partikel melalui saluran pernapasan.
Perhatian khusus juga diperlukan ketika warga mulai membersihkan abu yang menempel di rumah dan lingkungan. Abu yang sudah mengendap dapat kembali terangkat ke udara ketika disapu dalam kondisi kering atau terkena hembusan angin. Karena itu, pembersihan perlu dilakukan secara hati-hati agar konsentrasi partikel di udara tidak kembali meningkat. Orang yang melakukan pembersihan dianjurkan menggunakan masker, kacamata pelindung, serta pakaian yang menutupi kulit. Pintu dan jendela rumah dapat ditutup ketika kondisi di luar masih berdebu untuk mengurangi masuknya material ke dalam ruangan. Setelah beraktivitas di luar, tubuh dan pakaian juga sebaiknya segera dibersihkan agar abu yang menempel tidak terus terbawa ke lingkungan rumah.
Kementerian Kesehatan turut mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah ketika paparan abu masih tinggi. Jika terpaksa keluar, penggunaan masker dan pelindung mata dianjurkan sebagai bagian dari perlindungan dasar. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengingatkan bahwa mata yang sudah terkena abu tidak boleh dikucek dan harus dibersihkan dengan air. Fasilitas kesehatan di wilayah terdampak telah disiagakan untuk menangani keluhan kesehatan yang berkaitan dengan paparan material vulkanik. Langkah tersebut penting karena tingkat paparan dan respons tubuh setiap orang dapat berbeda. Kelompok anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan juga memerlukan perhatian lebih selama kondisi udara belum sepenuhnya pulih.
Pembilasan menggunakan air bersih umumnya menjadi pertolongan awal, tetapi tidak semua gangguan mata akibat abu dapat diselesaikan hanya dengan tindakan tersebut. Seseorang perlu mencari pertolongan medis apabila rasa sakit tidak berkurang, mata terus merah, penglihatan menjadi kabur, sangat sensitif terhadap cahaya, atau sensasi benda asing tetap terasa setelah mata dibilas. Keluhan yang memburuk dapat menandakan adanya iritasi lebih berat atau kemungkinan luka pada permukaan mata. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui apakah masih terdapat partikel asing atau gangguan lain yang membutuhkan penanganan. Masyarakat tidak dianjurkan mencoba mengeluarkan benda yang menempel kuat pada mata menggunakan jari maupun benda lain. Penanganan yang tidak tepat justru berpotensi menambah kerusakan pada jaringan mata.
Pemerintah daerah di sejumlah wilayah terdampak juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan tanpa membuat abu kembali beterbangan. Makanan, minuman, serta sumber air perlu ditutup agar tidak terkontaminasi material yang terbawa udara. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi ketika hujan abu masih berlangsung atau konsentrasi partikel masih terlihat tinggi. Saat berkendara, masyarakat juga perlu mempertimbangkan berkurangnya jarak pandang dan kondisi permukaan jalan. Penggunaan masker dan kacamata menjadi langkah sederhana yang dapat mengurangi kontak langsung dengan partikel. Informasi mengenai kondisi erupsi dan kualitas lingkungan juga perlu terus diperhatikan sebelum masyarakat kembali menjalankan aktivitas normal di luar rumah.
Penanganan mata yang terkena abu vulkanik pada dasarnya perlu dilakukan dengan cepat tetapi tetap hati-hati. Membilas menggunakan air bersih mengalir membantu mengeluarkan partikel tanpa menambah gesekan pada permukaan mata, sedangkan mengucek justru harus dihindari. Penggunaan pelindung mata menjadi langkah pencegahan penting selama abu masih berada di udara maupun ketika warga melakukan kegiatan pembersihan. Masyarakat juga perlu mengenali tanda yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, terutama nyeri berat, gangguan penglihatan, atau iritasi yang tidak kunjung membaik. Dengan penanganan awal yang tepat, risiko gangguan akibat partikel abu dapat ditekan. Kewaspadaan tetap diperlukan selama material vulkanik masih ditemukan di lingkungan terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.