Jakarta, 8 September 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mendorong penerapan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dengan pendekatan human-centric agar manusia tetap menjadi pusat dalam proses penciptaan karya. Pendekatan tersebut dinilai semakin penting ketika teknologi AI generatif berkembang pesat dan mulai digunakan dalam berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari desain, musik, film, animasi hingga produksi konten digital. Kemenekraf memandang AI seharusnya berfungsi sebagai perangkat yang membantu kreator meningkatkan kemampuan dan produktivitas, bukan menggantikan kreativitas serta keputusan manusia. Penggunaan teknologi juga tidak secara otomatis membuat sebuah karya kehilangan orisinalitas selama gagasan, arahan dan keputusan kreatif tetap berasal dari manusia. Prinsip tersebut menjadi salah satu dasar untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan nilai kreativitas dalam perkembangan industri kreatif Indonesia.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenekraf Muhammad Neil El Himam menjelaskan perkembangan AI telah membuka berbagai kemungkinan baru dalam proses produksi karya kreatif. Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat pekerjaan tertentu, menghasilkan alternatif ide, melakukan eksplorasi visual hingga mendukung tahapan teknis yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih panjang. Namun, pemanfaatannya perlu tetap menempatkan manusia sebagai pihak yang menentukan arah dan tujuan akhir sebuah karya. Kreator mempunyai pengalaman, konteks budaya, emosi serta kemampuan menilai yang tidak semata-mata dapat direduksi menjadi proses komputasi. Karena itu, pendekatan human-centric AI diarahkan untuk memperkuat kemampuan manusia melalui teknologi tanpa menghilangkan peran utama kreator dalam menentukan identitas karya.
Kemenekraf juga menilai penggunaan AI sebagai alat bantu tidak otomatis membuat sebuah karya kehilangan orisinalitas. Persoalan utama justru terletak pada bagaimana teknologi digunakan dalam proses kreatif dan sejauh mana kontribusi manusia tetap menjadi unsur dominan dalam pembentukan karya tersebut. Seorang kreator dapat memanfaatkan AI untuk membantu eksplorasi, memperoleh referensi atau mempercepat proses teknis, tetapi keputusan mengenai konsep, narasi, gaya hingga hasil akhir tetap berada di tangan manusia. Pola kolaborasi seperti itu memungkinkan teknologi meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan karakter personal seorang kreator. Dengan demikian, pembahasan mengenai AI dalam ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mesin menghasilkan konten, tetapi juga bagaimana manusia mempertahankan kendali terhadap proses penciptaannya.
Pendekatan yang berpusat pada manusia semakin relevan karena AI kini dapat menghasilkan teks, gambar, suara, musik hingga video dalam waktu yang relatif singkat. Kemampuan tersebut memberikan peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif, termasuk kreator individu dan usaha skala kecil yang sebelumnya memiliki keterbatasan sumber daya produksi. AI dapat menurunkan hambatan teknis sekaligus memungkinkan proses eksperimentasi dilakukan dengan lebih cepat dan murah. Meski demikian, kemudahan menghasilkan konten juga menghadirkan tantangan baru terkait kualitas, autentisitas, hak kekayaan intelektual serta posisi manusia dalam rantai produksi kreatif. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama literasi mengenai batas, tanggung jawab dan konsekuensi dari penggunaan AI.
Kreator juga perlu memahami bahwa kualitas sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan konten dalam jumlah besar atau dalam waktu singkat. Ekonomi kreatif bertumpu pada gagasan, keunikan, pengalaman serta nilai budaya yang membuat sebuah produk memiliki identitas dan dapat dibedakan dari karya lainnya. Apabila AI digunakan tanpa arahan kreatif manusia yang kuat, hasilnya berpotensi menjadi seragam karena bergantung pada pola yang dipelajari sistem dari kumpulan data sebelumnya. Sebaliknya, kreator yang mampu mengombinasikan teknologi dengan sudut pandang personal mempunyai peluang menggunakan AI sebagai instrumen untuk memperluas kemungkinan ekspresi. Posisi manusia karena itu tetap penting untuk memberikan konteks, makna dan pertimbangan terhadap hasil yang dihasilkan teknologi.
Konsep human-centric AI pada dasarnya menempatkan teknologi sebagai pendamping manusia dalam meningkatkan kemampuan, bukan sebagai tujuan akhir transformasi digital. Pendekatan serupa juga semakin banyak dibahas dalam pengembangan AI karena aspek etika, kepercayaan, literasi, kendali manusia dan kepemimpinan dinilai menjadi faktor penting dalam penerapan teknologi secara berkelanjutan. Dalam sektor kreatif, keseimbangan tersebut menjadi lebih penting karena keputusan teknologi bersinggungan langsung dengan identitas artistik dan nilai sebuah karya. Penelitian mengenai kolaborasi manusia dan AI dalam praktik kreatif juga menunjukkan adanya kecenderungan sebagian kreator mempertahankan batas tertentu antara penggunaan AI sebagai bantuan dan kendali kreativitas manusia. Kondisi itu memperlihatkan bahwa adopsi AI tidak harus berarti menyerahkan seluruh proses produksi kepada mesin.
Bagi industri ekonomi kreatif Indonesia, perkembangan tersebut sekaligus membuka kebutuhan baru terhadap peningkatan keterampilan. Kreator tidak hanya dituntut memahami bidang seni atau kreativitas masing-masing, tetapi semakin perlu memiliki literasi digital untuk mengetahui bagaimana AI bekerja dan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara efektif. Kemampuan menyusun instruksi, mengevaluasi keluaran AI, memverifikasi informasi dan menyunting hasil yang dihasilkan mesin dapat menjadi keterampilan pendukung dalam proses produksi modern. Pada saat bersamaan, kemampuan manusia seperti berpikir kritis, membangun konsep, memahami konteks budaya dan membuat keputusan kreatif justru menjadi semakin bernilai. Kombinasi kompetensi teknologi dan kreativitas tersebut dapat membantu pelaku industri memanfaatkan AI tanpa kehilangan ciri khas yang menjadi kekuatan ekonomi kreatif.
Tantangan lainnya berkaitan dengan tata kelola penggunaan AI, terutama ketika teknologi digunakan untuk menghasilkan atau memodifikasi karya yang berpotensi bersinggungan dengan hak pihak lain. Kreator perlu semakin memahami asal materi yang digunakan, batas pemanfaatan teknologi serta risiko ketika sebuah keluaran AI memiliki kemiripan dengan karya yang telah ada. Di tingkat industri, transparansi mengenai keterlibatan AI juga dapat menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan antara kreator, platform, konsumen dan pemegang hak. Pendekatan human-centric memberikan ruang agar pertimbangan semacam itu tidak dikalahkan semata-mata oleh target efisiensi produksi. Teknologi dapat berkembang cepat, tetapi penerapannya tetap membutuhkan keputusan manusia yang mempertimbangkan aspek kreativitas, etika dan keberlanjutan ekosistem.
Dorongan Kemenekraf terhadap human-centric AI pada akhirnya menunjukkan bahwa transformasi teknologi dalam ekonomi kreatif tidak harus dipandang sebagai persaingan antara manusia dan mesin. AI dapat ditempatkan sebagai instrumen yang memperluas kemampuan kreator, mempercepat pekerjaan teknis dan membuka metode produksi baru, sementara manusia mempertahankan perannya sebagai pencetus gagasan sekaligus pengambil keputusan utama. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pelaku ekonomi kreatif Indonesia mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan kekuatan berupa orisinalitas, karakter dan perspektif manusia. Adaptasi terhadap AI tetap diperlukan agar industri kreatif nasional kompetitif, tetapi peningkatan produktivitas tidak seharusnya mengorbankan nilai yang membuat sebuah karya memiliki makna. Dengan manusia tetap berada di pusat proses penciptaan, perkembangan AI diharapkan menjadi pendorong lahirnya lebih banyak inovasi sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Indonesia.