Jakarta, 4 September 2026 – Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Sultan Bachtiar Najamudin mengapresiasi langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto dalam Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok, Rusia. Menurut Sultan, kehadiran dan pidato Prabowo dalam forum tersebut menunjukkan konsistensi Indonesia membangun hubungan dengan berbagai negara sekaligus memperluas kerja sama ekonomi dengan Rusia. Ia menilai peluang kerja sama yang dibicarakan tidak hanya penting bagi hubungan bilateral di tingkat pusat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pembangunan ekonomi di daerah. Sektor teknologi, energi, hilirisasi sumber daya alam, dan investasi menjadi beberapa bidang yang dinilai memiliki prospek besar untuk dikembangkan. DPD berharap diplomasi ekonomi tersebut dapat diterjemahkan menjadi proyek konkret yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya Indonesia.
Sultan menilai Rusia merupakan salah satu kekuatan dunia yang sejak lama memiliki hubungan persahabatan dengan Indonesia. Hubungan tersebut menurutnya dapat menjadi modal untuk memperluas kemitraan pada sektor-sektor strategis yang dibutuhkan Indonesia dalam mempercepat pembangunan. Kemampuan Rusia dalam bidang rekayasa teknologi menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian karena dapat mendukung agenda hilirisasi sumber daya alam. Indonesia memiliki kekayaan komoditas yang tersebar di berbagai daerah, tetapi peningkatan nilai tambah membutuhkan teknologi, investasi, dan kemampuan industri yang semakin kuat. Kerja sama internasional karena itu diharapkan tidak berhenti pada perdagangan bahan mentah, melainkan diarahkan menuju pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.
Salah satu langkah yang diapresiasi Sultan adalah terbukanya peluang kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan teknologi pupuk, energi nuklir, serta eksplorasi blok minyak dan gas bumi. Bidang-bidang tersebut dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan nasional sekaligus perekonomian daerah. Teknologi pupuk, misalnya, memiliki peran penting dalam mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan, sementara sektor energi diperlukan untuk menopang pertumbuhan industri. Eksplorasi migas juga dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dilakukan dengan tata kelola yang baik serta memberikan nilai tambah bagi wilayah tempat kegiatan berlangsung. Sultan berharap setiap kerja sama dapat memperhatikan kepentingan masyarakat daerah dan tidak hanya menghasilkan keuntungan pada tingkat nasional.
Presiden Prabowo sebelumnya hadir sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum ke-11 yang diselenggarakan di Far Eastern Federal University, Vladivostok, pada Kamis, 3 September 2026. Kehadiran tersebut memenuhi undangan Presiden Rusia Vladimir Putin dan menjadi bagian dari penguatan hubungan kedua negara. Forum berlangsung pada 1 hingga 4 September 2026 dengan mempertemukan pejabat pemerintah, pemimpin bisnis, investor, serta berbagai kalangan dari sejumlah negara. Dalam pidatonya, Prabowo menekankan pentingnya memperkuat kerja sama ekonomi, investasi, dan perdagangan di tengah perubahan geopolitik global. Indonesia juga menegaskan keinginannya membangun hubungan yang terbuka dengan berbagai kekuatan ekonomi dunia.
Perdagangan bilateral Indonesia dan Rusia menjadi salah satu perhatian dalam pidato Presiden. Prabowo menyebut nilai perdagangan kedua negara telah mendekati 5 miliar dolar AS, meningkat sekitar 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan 33,7 persen dibandingkan 2023. Peningkatan tersebut dinilai menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperluas hubungan ekonomi kedua negara. Presiden bahkan mengusulkan agar Indonesia dan Rusia menetapkan target untuk melipatgandakan perdagangan dalam periode peninjauan pertama Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia dengan Eurasian Economic Union. Target tersebut membutuhkan perluasan akses pasar, peningkatan konektivitas, serta keterlibatan lebih besar dari pelaku usaha kedua negara.
Perjanjian perdagangan bebas dengan Eurasian Economic Union dinilai membuka peluang yang lebih luas bagi produk Indonesia memasuki pasar Eurasia. EAEU terdiri atas Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kirgizstan sehingga memberikan akses ke beberapa pasar sekaligus bagi produsen Indonesia. Sebaliknya, pelaku usaha dari kawasan Eurasia juga memperoleh peluang memasuki pasar Indonesia yang memiliki lebih dari 290 juta konsumen. Dalam pandangan DPD, kesempatan tersebut perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor produk bernilai tambah dari berbagai daerah. Pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal juga perlu dipersiapkan agar mampu memanfaatkan akses pasar baru ketika implementasi kerja sama perdagangan semakin berkembang.
Sultan melihat investasi Rusia berpotensi memberikan dampak langsung terhadap daerah apabila diarahkan menuju sektor produktif. Masuknya modal dan teknologi dapat mendorong pembangunan fasilitas pengolahan, infrastruktur pendukung, industri energi, maupun sektor lain yang berkaitan dengan potensi sumber daya masing-masing wilayah. Investasi semacam itu dapat menciptakan kebutuhan tenaga kerja sekaligus menggerakkan kegiatan ekonomi pendukung di sekitar proyek. Namun, manfaat investasi akan semakin besar apabila terdapat transfer teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, kerja sama ekonomi diharapkan tidak hanya dihitung berdasarkan besarnya nilai investasi, tetapi juga berdasarkan manfaat jangka panjang yang diperoleh masyarakat.
Agenda hilirisasi menjadi salah satu bidang yang dianggap dapat memperoleh manfaat besar dari kemitraan tersebut. Banyak daerah di Indonesia memiliki sumber daya mineral, energi, perkebunan, maupun komoditas lainnya yang masih membutuhkan peningkatan kapasitas pengolahan. Teknologi dan investasi dapat membantu mengubah komoditas tersebut menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan. Strategi tersebut dapat meningkatkan penerimaan daerah, membuka lapangan pekerjaan, serta membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar wilayah yang selama ini menjadi sentra industri. DPD berkepentingan memastikan pembangunan berbasis sumber daya tersebut memberikan manfaat yang proporsional bagi daerah penghasil.
Diplomasi Prabowo di Vladivostok juga berlangsung ketika kondisi geopolitik dunia menghadapi fragmentasi dan ketidakpastian. Indonesia mempertahankan pendekatan politik luar negeri yang membuka ruang kerja sama dengan berbagai negara berdasarkan kepentingan nasional. Hubungan dengan Rusia menjadi salah satu bagian dari strategi memperluas mitra ekonomi tanpa menutup kerja sama dengan negara dan kawasan lainnya. Diversifikasi mitra perdagangan dan investasi dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap pasar tertentu ketika terjadi perubahan ekonomi global. Pada saat yang sama, setiap kerja sama tetap membutuhkan perhitungan mengenai kepentingan nasional, manfaat ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan.
Sultan berharap capaian diplomasi dalam Eastern Economic Forum dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama ekonomi dan bisnis yang memberikan hasil nyata. DPD melihat daerah perlu mendapatkan ruang dalam implementasi berbagai kesepakatan, terutama ketika proyek investasi berkaitan dengan sumber daya alam dan pembangunan industri di wilayah. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan investor perlu membangun koordinasi agar peluang yang muncul dapat direalisasikan secara efektif. Transfer teknologi, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan kapasitas industri nasional, dan penguatan ekonomi lokal menjadi manfaat yang diharapkan dari kerja sama tersebut. Dengan tindak lanjut yang terukur, diplomasi ekonomi Indonesia-Rusia diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai perdagangan bilateral, tetapi juga memperkuat hilirisasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah Indonesia.