Jakarta, 13 Oktober 2026 – Sebaran titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan masih menjadi perhatian dalam upaya pengendalian kebakaran di Indonesia. Kedua provinsi memiliki kawasan hutan, perkebunan, dan lahan gambut yang rentan mengalami kebakaran ketika kondisi lingkungan mengering. Pemantauan melalui satelit menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui perkembangan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Informasi tersebut membantu petugas menentukan lokasi yang perlu diperiksa dan diprioritaskan dalam operasi pencegahan maupun pemadaman. Kondisi ini juga menjadi perhatian karena kebakaran yang meluas dapat menghasilkan kabut asap dan mengganggu kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data pemantauan pada 11 Oktober 2026, Sumatera Selatan tercatat memiliki 234 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 213 titik panas pada periode pemantauan yang sama. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kedua wilayah menghadapi potensi kebakaran yang membutuhkan pengawasan intensif. Namun, titik panas yang terdeteksi satelit tidak seluruhnya dapat langsung dinyatakan sebagai kebakaran aktif karena masih memerlukan pemeriksaan lapangan. Perubahan cuaca, kondisi vegetasi, dan aktivitas manusia dapat memengaruhi perkembangan titik panas dari waktu ke waktu.
Pemantauan titik panas menggunakan teknologi satelit dilakukan untuk mendeteksi anomali suhu permukaan bumi yang berbeda dari kondisi lingkungan sekitarnya. Data tersebut umumnya dilengkapi tingkat kepercayaan untuk membantu petugas menilai kemungkinan keberadaan sumber panas yang berkaitan dengan kebakaran. Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi menjadi salah satu prioritas dalam pemeriksaan lapangan. Meski demikian, satu titik panas tidak selalu mewakili satu kejadian kebakaran dengan luas tertentu. Karena itu, informasi satelit perlu dikombinasikan dengan laporan petugas dan pengamatan langsung agar kondisi sebenarnya dapat diketahui.
Sumatera Selatan menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan perhatian khusus karena memiliki kawasan lahan gambut yang luas. Ketika permukaan air tanah menurun, lapisan gambut dapat mengering dan menjadi lebih mudah terbakar. Kebakaran pada lahan tersebut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi di permukaan tanah biasa. Api dapat merambat melalui lapisan gambut sehingga proses pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar dan waktu yang lebih panjang. Apabila tidak ditangani secara menyeluruh, bara yang masih tersimpan di bawah permukaan berpotensi kembali memicu kebakaran.
Di Kalimantan Tengah, laporan penanganan karhutla pada 11 Oktober 2026 mencatat 3.908 titik panas dari berbagai tingkat kepercayaan. Kabupaten Seruyan menjadi wilayah dengan konsentrasi tertinggi, yakni 1.308 titik, disusul Kotawaringin Timur sebanyak 431 titik. Kebakaran juga tercatat di Katingan, Kapuas, Pulang Pisau, Barito Selatan, dan Kota Palangka Raya. Sebaran tersebut memperlihatkan luasnya wilayah yang membutuhkan pengawasan dan kesiapan personel pemadam. Pemeriksaan langsung tetap diperlukan untuk memastikan titik panas yang benar-benar berkaitan dengan kebakaran aktif.
Di Sumatera Selatan, pemantauan pada 12 Oktober 2026 menunjukkan konsentrasi titik panas yang menonjol di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Wilayah tersebut mencatat 1.271 titik panas, sementara Musi Banyuasin memiliki 218 titik dan Banyuasin sebanyak 181 titik. Sebaran lainnya ditemukan di Muara Enim, Ogan Ilir, dan sejumlah kabupaten lain. Konsentrasi titik panas di kawasan gambut menjadi perhatian karena kebakaran dapat berlangsung lama dan menghasilkan asap pekat. Kondisi tersebut membuat pemadaman membutuhkan dukungan sumber air serta pengawasan berkelanjutan.
Berdasarkan pembaruan penanganan hingga 12 Oktober 2026, total luas lahan terbakar di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan mencapai sekitar 343,55 hektare. Di Kalimantan Tengah, luas kebakaran tercatat 64,8 hektare, dengan sekitar 54 hektare berhasil dipadamkan dan 10,8 hektare masih membutuhkan penanganan. Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat 278,75 hektare lahan terbakar, dengan 271,85 hektare telah dipadamkan. Sekitar 6,90 hektare lainnya masih menjadi sasaran operasi pemadaman. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa petugas telah menangani sebagian besar area yang tercatat, meskipun risiko kebakaran susulan tetap perlu diwaspadai.
Kabut asap akibat karhutla juga memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di kedua provinsi. Di Kalimantan Tengah, jarak pandang pada kawasan bandara dilaporkan menurun hingga sekitar 200 meter, sedangkan di Sumatera Selatan berkisar antara 300 meter hingga tujuh kilometer. Kondisi tersebut membatasi pelaksanaan operasi pemadaman udara karena keselamatan penerbangan harus tetap diperhatikan. Petugas mengandalkan operasi darat serta modifikasi cuaca untuk membantu pengendalian kebakaran. Penanganan lanjutan diprioritaskan pada lokasi yang belum padam, termasuk melalui penyekatan, pendinginan, dan pengawasan titik api.
Pemerintah bersama petugas gabungan terus memperkuat penanganan karhutla melalui patroli, pemadaman, serta pemantauan kondisi atmosfer. Operasi modifikasi cuaca dilakukan untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di kawasan yang membutuhkan dukungan pemadaman. Namun, keberhasilan operasi tersebut bergantung pada ketersediaan awan dan kondisi meteorologi. Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko penyebaran api. Dengan pengawasan yang konsisten dan penanganan terarah, kebakaran di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan diharapkan dapat dikendalikan sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.