Jakarta, 7 Mei 2026 – Aparat kepolisian mengamankan puluhan remaja di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, setelah video konvoi yang melibatkan pelajar SMP sambil membawa senjata tajam viral di media sosial. Aksi tersebut memicu keresahan masyarakat dan langsung mendapat perhatian aparat keamanan.
Dalam video yang beredar, sekelompok remaja terlihat berkeliling menggunakan kendaraan sambil membawa benda yang diduga senjata tajam. Konvoi itu disebut berlangsung di sejumlah ruas jalan dan sempat menarik perhatian warga sekitar.
Setelah menerima laporan dan menelusuri video viral tersebut, polisi bergerak melakukan penyisiran dan pemeriksaan terhadap para remaja yang diduga terlibat. Sebanyak 31 orang kemudian diamankan untuk menjalani pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut.
Petugas juga menyita sejumlah barang yang diduga digunakan dalam aksi konvoi tersebut. Polisi kini masih mendalami motif kegiatan para remaja dan kemungkinan adanya rencana aksi kekerasan atau tawuran antar kelompok.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa membawa senjata tajam tanpa alasan yang sah merupakan pelanggaran hukum dan dapat membahayakan keselamatan masyarakat. Aparat juga mengingatkan pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak di luar rumah.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan kenakalan remaja dan pengaruh media sosial terhadap perilaku kelompok pelajar. Pengamat sosial menilai aksi konvoi semacam itu sering dipicu keinginan mencari pengakuan atau eksistensi di lingkungan pergaulan.
Pemerintah daerah dan pihak sekolah diminta memperkuat pembinaan karakter serta kegiatan positif bagi pelajar agar mereka tidak terjerumus dalam aksi yang berpotensi melanggar hukum. Edukasi mengenai bahaya kekerasan dan penggunaan senjata tajam juga dinilai perlu diperkuat.
Warga sekitar mengaku khawatir aksi konvoi tersebut dapat berkembang menjadi tawuran atau tindak kriminal yang membahayakan pengguna jalan lain. Mereka berharap aparat meningkatkan patroli dan pengawasan di wilayah rawan.
Hingga kini, polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap para remaja yang diamankan sambil berkoordinasi dengan pihak keluarga dan sekolah terkait langkah pembinaan selanjutnya.