Jakarta, 26 Mei 2026 – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut pelaksanaan ibadah kurban di Masjid Istiqlal Jakarta memiliki potensi menjadi model atau percontohan bagi pelaksanaan kurban di kawasan Asia Tenggara. Pernyataan tersebut disampaikan menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah setelah pemerintah melakukan berbagai persiapan untuk memastikan proses ibadah dan distribusi hewan kurban berjalan tertib, modern, dan higienis. Menurut Menag, sistem pengelolaan kurban di Masjid Istiqlal terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik dari sisi manajemen distribusi, pengawasan kesehatan hewan, hingga keterlibatan teknologi dalam proses pendataan dan penyaluran. Pelaksanaan kurban di masjid nasional tersebut dinilai mampu menggabungkan nilai ibadah, pelayanan publik, dan tata kelola modern dalam satu sistem yang lebih terorganisasi. Karena itu, model yang diterapkan disebut berpotensi menjadi referensi bagi negara-negara lain di kawasan.
Dalam keterangannya, Nasaruddin Umar menekankan bahwa pengelolaan kurban tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan, tetapi juga menyangkut aspek kebersihan, kesehatan, efisiensi distribusi, dan pemerataan manfaat kepada masyarakat. Masjid Istiqlal disebut telah menerapkan sistem pengelolaan yang lebih profesional dengan melibatkan tenaga kesehatan hewan, relawan terlatih, serta mekanisme distribusi yang lebih terstruktur. Selain itu, penggunaan teknologi dalam pendataan hewan kurban dan penerima manfaat dinilai membantu meningkatkan transparansi dan ketepatan penyaluran. Menurutnya, pendekatan modern seperti ini penting diterapkan agar pelaksanaan ibadah kurban di kota besar tetap berjalan tertib dan sesuai standar kesehatan masyarakat. Pemerintah juga berharap sistem yang baik dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan ibadah kurban secara institusional.
Pengamat keagamaan menilai pelaksanaan kurban di Masjid Istiqlal memang memiliki skala dan perhatian yang besar karena statusnya sebagai masjid nasional dan salah satu simbol Islam terbesar di Asia Tenggara. Setiap tahun, jumlah hewan kurban yang diterima dan didistribusikan di Istiqlal mencapai angka signifikan dengan jangkauan penerima yang luas. Karena itu, pengelolaan yang profesional menjadi kebutuhan penting agar seluruh proses berjalan efektif dan tidak menimbulkan persoalan kesehatan maupun distribusi. Penggunaan teknologi dan sistem manajemen modern dalam kegiatan keagamaan juga dinilai mencerminkan perkembangan cara pelayanan publik di era digital. Banyak negara kini mulai memperhatikan aspek efisiensi dan keberlanjutan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.
Di sisi lain, momentum Idul Adha juga dianggap sebagai kesempatan memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Distribusi daging kurban yang dilakukan secara tertib dan merata dinilai mampu membantu kelompok masyarakat kurang mampu sekaligus memperkuat rasa kebersamaan. Pemerintah dan pengelola Masjid Istiqlal disebut terus berupaya memastikan pelaksanaan kurban tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberikan manfaat sosial yang luas. Selain itu, pengawasan kesehatan hewan dan pengelolaan limbah penyembelihan juga diperketat agar kegiatan berjalan aman dan ramah lingkungan. Pendekatan tersebut dinilai penting mengingat skala pelaksanaan kurban di Istiqlal yang melibatkan ribuan masyarakat setiap tahunnya.
Menag Nasaruddin berharap sistem pengelolaan kurban di Masjid Istiqlal dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi pelaksanaan ibadah kurban di berbagai daerah maupun negara lain. Menurutnya, nilai utama Idul Adha bukan hanya terletak pada penyembelihan hewan, tetapi juga bagaimana manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat dengan pengelolaan yang baik. Pemerintah juga mendorong masjid dan lembaga keagamaan lain mulai menerapkan sistem distribusi yang lebih modern, tertib, dan transparan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada umat. Dengan dukungan teknologi dan manajemen yang profesional, pelaksanaan kurban diharapkan semakin efektif sekaligus tetap menjaga nilai spiritual dan sosial dari ibadah tersebut. Idul Adha pun diharapkan menjadi momentum penguatan solidaritas dan pelayanan keagamaan yang lebih maju di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.